Wednesday, 19 June 2013

Syukur Nikmat Orang Shaleh

Diantara sekian banyak nabi yang diberi mukjizat yang fenomenal adalah Nabi Sulaiman. Allah Swt telah memberikan kepada Nabi Sulaiman apa yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum dan sesudahnya. Dialah seorang raja yang menguasai wilayah terluas dan memiliki kekayaan yang melimpah. Namun bagi Nabi Sulaiman, mensyukuri nikmat Allah adalah wajib, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya juga wajib. Sulaiman pun menghadap kepada Allah agar diajari bersyukur dan diberi petunjuk untuk selalu memuji kepada-Nya. Nikmat menjadi abadi dengan syukur, dan hilang dengan kufur.

Dalam rangka menjaga nikmat agar selalu abadi dan diberi tambahan kebaikan oleh Allah Swt, Sulaiman pun memohon kapada-Nya petunjuk agar selalu dibimbing untuk beramal saleh. "Dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai. "

Dalam hal kesalehan, manusia dibagi kepada dua bagian; pertama, hamba yang ditunjuki, dibimbing dan diarahkan untuk beramal saleh. Kedua, hamba yang ditarik oleh Allah Swt kepada

agamanya, lalu diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sulaiman telah memohon kepada Allah Swt agar diberi petunjuk dan dijadikan sebagai orang-orang yang saleh.

Dari sini kita dapat mengetahui dan mempelajari bagaimana kita bersyukur kepada Allah Swt serta memuji dan mengakui nikmat-nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita semua. Maka, jika kita menginginkan ketenangan dalam diri serta ketenteraman dalam hidup, kita tidak boleh lalai bersyukur kepada Allah Swt.

Ketahuilah, amal saleh yang senantiasa dipadukan dengan iman, itulah hakikat keberuntungan di dunia dan kesuksesan di akhirat. "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. " (QS. Fushshilat [41]: 31)

Rasulullah selalu membimbing umatnya melalui nasihat- nasihatnya. Antara lain dengan berdoa dan memohon ampunan: Allaahummaghfir lii dzanbii wawasi’lii fii daarii wa baariklii fiimaa razaqtanii.

" Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, luaskanlah tempat tinggalku, dan berkatilah rezeki yang Engkau berikan kepadaku." (HR. At- Tirmidzi)

Hendaklah tenggorokan selalu basah dengan dzikir kepada Allah Swt, hati menjadi tenang dengan banyak istighfar. Tidaklah bahaya itu terangkat kecuali dengan pertolongan Allah. Dengan karunia- Nyalah jiwa menjadi tenteram. Harapan terbesar dari semua itu adalah semoga Allah Swt tidak mengecewakan permohonan kita; Dia Mahakaya, Maha Terpuji, dan Maha Melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

"ya tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah engkau anugrahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS.An-Naml [27]:19)

Dunia adalah tempat segala bentuk kesenangan yang diperindah dengan syahwat. Luasnya tak terjangkau. Harapan orang yang mengamatinya hanya sia-sia. Orang-orang yang lalai dalam hidupnya selalu menganggapnya kekal, dan teperdaya dengan luasnya. Sebagaimana yang diutarakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. " (QS. Al- Kahfi [18]: 46)

Rasulullah Saw bersabda, "Cinta dunia adalah otak segala kesalahan."

Orang-orang saleh senantiasa memohon kepada Tuhan mereka kebaikan dunia yang dapat berdampak baik dan positif bagi kehidupan mereka dalam beragama. Mereka hanya memohon kepada Allah Swt. yang terbaik dari rezeki dan anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Inilah doa para nabi,
"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. " (QS. Ali Imran [3]: 38)

Dan, inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya, "Apabila anak cucu Adam meninggal, terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan kedua orangtuanya." Ya, derajat seseorang akan terangkat setelah ia meninggal dengan (doa) anak-anaknya yang saleh, laki-laki maupun perempuan. Dan sebaik-baik doa adalah apa yang telah diajarkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an-Nya.

"Ya Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. " (QS. Al-Isra [17]: 24)

 Inilah Nabi Ibrahim yang selalu berdoa untuk dirinya dan anak cucunya, semoga menjadi anak yang saleh dan beruntung. Puncak dari semua itu adalah menegakkan salat. Salat adalah obat bagi segala macam penyakit jiwa. Dengan salat, dada terasa lapang. Dengan berkah salat rumah menjadi makmur. Dan, salat adalah tiang agama sekaligus sebagai pondasi utama akidah.

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhanku kami, perkenankanlah doaku. " (QS. Ibrahim [14]: 40)

Sedangkan Nabi Zakaria, beliau tidak pernah putus memohon rahmat Allah Swt. Nabi Zakaria masuk ke tempat Maryam dan berkata kepadanya, "’Hai Maryam, darimana kamu memperoleh (makanan) ini?’Maryam menjawab, ‘Makanan itu dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki- Nya tanpa hisab." (QS. Ali Imran [3]: 37)

Sekalipun Zakaria telah tua dan mulai beruban, sementara istrinya juga demikian, beliau tetap memohon kepada Allah Swt. agar diberi keturunan yang saleh.

"Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah waris yang paling baik. " (QS. Al-Anbiya [21]: 89)

Sesunggunya ayat-ayat di atas merupakan solusi atas berbagai permasalahan dan himpitan yang mendera. Menghindarkan berbagai macam kecemasan, serta menjadi penolong dalam menghadapi berbagai macam terpaan zaman.

*http://kolom.abatasa.co.id/kolom/detail/hikmah/1256/syukur-nikmat-orang-saleh.html

Friday, 14 June 2013

Rendah Hati (Tawadhu)

Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.  Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan takabbur (sombong), ataupun sum’ah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.
Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia, jadi sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini : 
 
Rasulullah SAW bersabda: yang artinya "Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiada seseorang yang bertawadhu kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).
 
Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku: "Bertawadhu lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.(HR. Muslim).
 
Rasulullah SAW  bersabda,    “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
 
Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya, Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.
 
Tanda orang yang tawadhu’ adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.. Ini karena orang yang tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT, untuk mengujinya apakah ia bersykur atau kufur.
 
Perhatikan firman Allah berikut ini : "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (QS. An Naml: 40).”
 
Berikut beberapa ayat-ayat Al Quran yang menegaskan perintah Allah SWT untuk senantiasa bersikap tawadhu’ dan menjauhi sikap sombong, sebagai berikut :
 
 ”Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung” (QS al-Isra-37). 
 
Firman Allah SWT lainnya: ”Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa (QS al-Qashshash-83.)
 
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al Furqaan: 63)
 
Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS: an-Nahl: 23)
 
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. (QS: al-A'raf: 40)
 
Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS.Al-Baqarah : 206)

 
Berikut  beberapa contoh Ketawadhu’an Rasulullah SAW
 
1.      Anas ra jika bertemu dengan anak-anak kecil maka selalu mengucapkan salam pada mereka, ketika ditanya mengapa ia lakukan hal tersebut ia menjawab: Aku melihat kekasihku Nabi SAW senantiasa berbuat demikian. (HR Bukhari, Fathul Bari’-6247).
 
2.      Dari Anas ra berkata: Nabi SAW memiliki seekor unta yang diberi nama al-’adhba` yang tidak terkalahkan larinya, maka datang seorang ‘a’rabiy dengan untanya dan mampu mengalahkan, maka hati kaum muslimin terpukul menyaksikan hal tersebut sampai hal itu diketahui oleh nabi SAW, maka beliau bersabda: Menjadi haq Allah jika ada sesuatu yang meninggikan diri di dunia pasti akan direndahkan-Nya. HR Bukhari (Fathul Bari’-2872).
 
3.      Abu Said al-Khudarii ra pernah berkata: Jadilah kalian seperti Nabi SAW, beliau SAW menjahit bajunya yang sobek, memberi makan sendiri untanya, memperbaiki rumahnya, memerah susu kambingnya, membuat sandalnya, makan bersama-sama dengan pembantu-pembantunya, memberi mereka pakaian, membeli sendiri keperluannya di pasar dan memikulnya sendiri ke rumahnya, beliau menemui orang kaya maupun miskin, orang tua maupun anak-anak, mengucapkan salam lebih dulu pada siapa yang berpapasan baik tua maupun anak, kulit hitam, merah, maupun putih, orang merdeka maupun hamba sahaya sepanjang termasuk orang yang suka shalat.
Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu Mas’ud al-Badariiy)
 
Berbicara lebih jauh tentang tawadhu’, sebenarnya tawadhu’ sangat diperlukan bagi siapa saja yang ingin menjaga amal shaleh atau amal kebaikannya, agar tetap tulus ikhlas, murni dari tujuan selain Allah.  Karena memang tidak mudah menjaga keikhlasan amal shaleh atau amal kebaikan kita agar tetap murni, bersih dari tujuan selain Allah. Sungguh sulit menjaga agar segala amal shaleh dan amal kebaikan yang kita lakukan tetap bersih dari tujuan selain mengharapkan ridha-Nya. Karena sangat banyak godaan yang datang, yang selalu berusaha mengotori amal kebaikan kita. Apalagi disaat pujian dan ketenaran mulai datang menghampiri kita, maka terasa semakin sulit bagi kita untuk tetap bisa menjaga kemurnian amal shaleh kita, tanpa terbesit adanya rasa bangga dihati kita. Disinilah sangat diperlukan tawadhu’ dengan menyadari sepenuhnya, bahwa sesungguhnya segala amal shaleh, amal kebaikan yang mampu kita lakukan, semua itu adalah karena pertolongan dan atas ijin Allah SWT.
 
Tawadhu’ juga mutlak dimiliki bagi para pendakwah yang sedang berjuang meninggikan Kalimatullah di muka bumi ini, maka sifat tawadhu mutlak diperlukan untuk kesuksesan misi dakwahnya. Karena bila tidak, maka disaat seorang pendakwah mendapatkan pujian, mendapatkan banyak jemaah, dikagumi orang dan ketenaran mulai menghampirinya, tanpa ketawadhu’an, maka seorang pendakwah pun tidak akan luput dari berbangga diri atas keberhasilannya.
 
*Sumber: http://dewiyana.abatasa.co.id/post/detail/3261/tawadhursquo;-rendah-hati

Monday, 10 June 2013

Sabar dalam Izin Allah

Kesabaran adalah landasan hidup yang kondusif bagi tumbuhnya sifat adil, kasih-sayang, lembut. Kesabaran adalah wahana yang baik untuk membangkitkan kecerdasan. Kesabaran juga merupakan sarana untuk meminta pertolongan, atau cara untuk menolong diri-sendiri [self assistance]. Dan ia juga merupakan benteng yang tangguh untuk menahan berbagai macam godaan yang bisa merontokkan diri.

Dalam hidup ini kita melihat orang yang lemah semangat. Orang yang lemah semangat adalah orang yang lemah daya juangnya. Orang itu tak mau lagi melanjutkan usahanya. Dia merasa tak akan bisa mendapatkan yang diinginkannya. Kadang kita juga mengetahui orang yang berlemah hati, mudah menyerah dalam menghadapi tantangan dalam hidup ini. Orang yang lemah hati tidak tabah dalam menghadapi tekanan hidup. Lemah semangat tidak ada hubungannya dengan lemah hati. Tetapi, keduanya bisa menyatu pada diri seseorang. Nah, sabar adalah oposisi dari kedua sifat tersebut.

Jadi, orang yang memiliki kesabaran yang tinggi, adalah orang yang tidak lemah semangat dan tidak pula berlemah hati. Dengan kata lain, orang yang sabar adalah orang optimistik. Dia yakin apa yang sudah direncanakannya dengan matang itu akan diperoleh hasilnya. Orang yang sabar adalah orang yang telah menyiapkan pekerjaannya dengan baik. Prinsip manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, aksi dan pengendalian dilakukan dengan baik. Tak ada alasan untuk lemah hati maupun lemah semangat. Usaha lahiriah ditopangnya dengan doa: Ya Tuhan, teguhkan hati kami dan jadikan kami sabar dalam menghadapinya.

Ya, tapi itu kan mudah diomongkan! Lha, kenyataannya kan sulit dilakukan. Mari kita lihat lagi landasan untuk sampai di stasiun sabar. Bukankah kita telah melewati stasiun takwa dasar [berupaya meninggalkan perilaku hidup yang tak benar], stasiun tobat [kembali ke hal-hal yang benar], dan wara’ [sengaja memilih sesuatu yang benar]. Pada stasiun yang pertama itu, kita sudah berusaha meninggalkan hal-hal yang tak benar. Umumnya kita bisa lulus distasiun ini. Wujudnya, ya, kita mencari nafkah secara halal ini. Mungkin saja ada kesalahan dan keburukan yang kita lakukan, tapi itu bukan merupakan ‘cap’ bagi kehidupan kita umumnya! Pada umumnya, manusia itu berusaha menjaga keselamatan hidupnya. Mereka berada di landasan ketakwaan! Kemudian, sebagian dari manusia di stasiun pertama ini melanjutkan perjalanannya ke stasiun tobat. Satu langkah lebih jauh.

Pada stasiun tobat, orang-orang berusaha hidup amar ma‘ruf nahi munkar. Hidup untuk memenuhi apa-apa yang dipandang baik di lingkungan hidupnya. Hidup menahan diri dari segala perbuatan yang ditolak masyarakat. Pada tahap ini subjektivitas masih ikut berperanan. Artinya, kemakrufan itu masih dipengaruhi oleh golongan atau kelompoknya. Di tahap ini kita belum mampu membebaskan diri dari tekanan atau belenggu kelompok. Nurani kita mengatakan bahwa ini sebetulnya tidak benar, tetapi kita tidak mampu keluar dari jeratnya. Kita mengetahui bahwa kolusi itu mungkar, tapi kita tidak mampu membebaskannya. Kita memang kembali ke jalan yang benar. Tetapi, kotoran masih juga tersangkut. Dalam bahasa syariat mereka sudah tidak mau berbuat kesalahan yang sama, tapi mungkin berbuat kesalahan yang lain. Yang ini sudah mampu dihindari, tapi yang itu masih berat. Inilah stasiun tobat!

Sebagian orang yang ada distasiun tobat ini melanjutkan perjalanannya ke stasiun wara’. Di stasiun ini orang-orang betul-betul memilih sesuatu yang benar saja. Mereka melihat mana warna yang hitam, putih dan yang abu-abu. Mereka lalui yang warnanya putih saja. Yang hitam jelas ditinggalkan. Bahkan yang abu-abu pun ditinggalkannya. Memang berat perjalanan di tahap ini! Ini tidak berarti orang yang sudah berada pada maqam wara’ ini tidak punya kesalahan. Ya, kesalahan mungkin tetap terjadi, tetapi itu bukan karena pilihannya. Ia terpeleset!

Nah, ketika orang sudah bisa memasuki stasiun sabar, maka ia berusaha meraih sifat-sifat yang terpuji. Di dalam batinnya tumbuh rasa keadilan, senantiasa ingin ‘fair’. Ia tak ingin mendominasi kehidupan orang lain. Ia berbagi kasih. Ia berusaha lembut dalam pergaulan. Jika dalam tangga sebelumnya orang bergulat dengan sikap untung-rugi, maka dalam tangga sabar ia harus optimis untung. Ia yakin dapat keberuntungan bila ia mampu menahan godaan. Ia yakin dapat meraih keberuntungan [bukan keun-tungan lho!], bila semuanya dipersiapkan dengan matang. Ia jalani proses, prosedur, dan aturan-aturannya dengan benar. Karena memahami proses, prosedur dan aturan-atauran yang ada itu ia tak mengalami lemah semangat atau lemah hati. Kalau gagal, tidak berarti tamat perjuangannya. Sikap optimistik adalah bagian dari hidupnya.

Siapakah mereka yang tidak patah semangat, tidak lemah hati dan tidak berbudi rendah itu? Kalau zaman dulu, mereka itu adalah orang-orang yang memahami ketuhan-an dan menyertai para nabi dalam perjuangannya.
3:146 Dan berapa banyak nabi yang bertempur, yang disertai banyak ‘ribbi’. Mereka tak berlemah hati terhadap apa yang mereka di jalan Allah, dan mereka pun tak lemah semangat mereka, dan tidak pula rendah budinya. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.
Jika kita mau membaca satu ayat sebelumnya, di situ kita membaca pernyataan Tuhan. Di situ dinyatakan, “Dan sesuatu yang berjiwa tak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan. Dan barangsiapa menghendaki ganjaran dunia, Kami memberikan kepadanya, dan yang menghendaki ganjaran akhirat niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan mengganjar mereka yang bersyukur.” Untuk menopang keteguhan hati kita, agar kita dapat bersabar, kita harus meyakini bahwa semua yang bernyawa pasti mati. Semua yang bernyawa pasti mati! Ini landasan kita. Kita resapkan dulu ke dalam batin kita.

Ternyata, makhluk yang bernafas itu mati dengan izin Tuhan. Masih ingat kan arti kata “izin Tuhan”. Kata ini tidak bermakna seperti ‘kita mengizinkan’. Kata izin yang kita pergunakan sebenarnya mengandung ‘sikap otoriter kita’ kepada yang kita izini. Izin Tuhan tidak bermakna demikian. Dalam izin Tuhan terkandung “kitaban mu-ajjala” yaitu hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Suatu hukum yang objektif dan rasional. Jadi, bila ada orang yang ditusuk pisau [dan energi yang disertakan pada pisau tusuk itu lebih besar daripada orang yang ditusuk] maka tertusuklah orang itu. Lho, kita kan menyaksikan di tv bahwa ada orang ditusuk pisau tidak mempan! Tidak mempan karena energi pada pisau itu lebih sedikit daripada yang ditusuk. Dalam aras objektif, semua itu hanya permainan energi. Tak perlu heran!

Ayat 145 ini perlu diingat-ingat. Yang pertama, Allah menggantikan kata buat diri-Nya dengan ‘Kami’. Sebagaimana yang telah saya jelaskan, kata ‘Kami’ berarti Allah melibatkan atau menyertakan ciptaan-Nya untuk terwujudnya suatu kejadian. Karena itu, dalam menempuh kehidupan ini kita juga harus memperhatikan kehadiran objek-objek di sekitar kita. Karena objek-objek itu bisa menjadi sarana atau wahana bagi kita dalam merealisasikan tujuan kita. Dan apa gongnya ayat tersebut? Gongnya adalah “barangsiapa menghendaki ganjaran [dunia atau akhirat], Kami berikan kepada dia yang menghendaki.” Tegas sekali bahwa Tuhan tidak berbuat sewenang-wenang. Setiap kali ada ayat “Tuhan menghendaki”, artinya kehendak-Nya itu diberikan kepada orang yang menghendaki. Karena itu, penutup ayat 145 adalah “Kami mengganjar orang-orang yang bersyukur”, yaitu orang yang telah memberikan nilai tambah.

Dengan memperhatikan ayat 3:145 tersebut, kita mengetahui bahwa kesabaran itu merupakan usaha. Kesabaran bukan semata-mata diberikan sebagai takdir, taken for granted. Ada sejumlah energi yang didepositokan untuk mewujudkan kesabaran. Dan berikutnya orang yang telah mendepositokan energinya untuk kesabaran itu memperoleh pokok dan interesnya. Kloplah pemahaman “Allah beserta orang-orang yang sabar”. Inilah hukum Ilahi yang digelar di alam ini.

Pada ayat 146 disebutkan bahwa banyak nabi yang bertempur yang disertai para “ribbi”. Kata ‘ribbi’ ini biasa diterjemahkan dengan ‘orang-orang yang menyembah Tuhan’. Tentu saja terjemahan demikian ini lemah. Terjemahan ini dapat diartikan, orang-orang yang bertempur melawan para nabi bukanlah orang yang menyembah Tuhan. Orang-orang yang bersama nabi pasti orang yang menyembah Tuhan. Nyatanya tidak demikian! Di era Nabi Saw, orang-orang kafir yang mengikat perjanjian damai bersama Nabi, bertempur bersama Nabi. Dan, sekarang ini pun bisa kita saksikan bahwa sangat banyak manusia penyembah Tuhan yang lemah hatinya. Jangankan untuk bertempur melawan musuh fisiknya, untuk menghadapi tekanan hidupnya sendiri saja tidak berdaya, sehingga hidup terombang-ambing.

Lalu, apa arti kata ribbi? Ribbi adalah mereka yang memahami makna ketuhanan. Atau, ribbi adalah manusia yang saleh [tindakannya bermanfaat/berguna bagi diri dan lingkungannya]. Orang-orang demikianlah yang menyertai para nabi dalam pertempuran di zamanya. Karena mereka faham betul asas manfaat yang mereka lakukan, maka mereka itu tak gentar, tak lemah hati, tak lemah semangat dalam menghadapi pertem-puran. Para ribbi ini pun tidak berbudi rendah [lari dari pertempuran].

Para ribbi inilah yang di ayat 3:146 itu dinamakan orang-orang yang sabar. Bukan semua pengikut nabi yang menyertai dalam pertempuran disebut ribbi. Tetapi para nabi dalam pertempuran disertai banyak ribbi. Orang-orang ini tak gentar, tidak lemah hati, dan tidak pengecut dalam pertempuran. Sifat yang dimiliki para ribbi ini adalah sifat orang-orang yang sabar. Dan ayat ini turun setelah perang Uhud, di mana pada waktu itu pasukan Nabi mengalami kekalahan karena ada kelompok pasukan yang terpancing harta rampasan perang. Jadi, ayat ini memperkokoh perjuangan para ribbi pada perang-perang yang terjadi sesudahnya.

Bila kita perhatikan ayat 3:148, maka orang-orang yang sabar ini juga disebut sebagai orang-orang yang berbuat kebajikan [muhsinin]. Dan di ayat ini dinyatakan bahwa Tuhan mencintai orang-orang muhsin ini. Dan, muhsin berasal dari kata yang sama dengan ‘ihsan’. Maka orang-orang muhsin adalah orang-orang yang senantiasa sadar terhadap dirinya, yang dalam bahasa hadis, adalah orang yang beribadah dan merasa ibadahnya itu senantiasa dalam pengawasan Tuhan. Jika ditarik suatu garis dari ayat 145 hingga 148, dapat disimpulkan bahwa orang yang sabar adalah orang yang bersyukur, dan karena itu dia juga disebut orang yang berbuat kebajikan. Jadi, jelas bahwa orang yang sabar bukan orang yang pasif. Bukan orang yang sekadar menerima suatu tekanan atau ketidakberdayaan.

Seperti yang telah dijelaskan, bersyukur tidak berarti mengucapkan ‘terima kasih’ kepada Tuhan. Bersyukur merupakan suatu aktivitas kebajikan. Orang yang bersyukur adalah orang yang menciptakan nilai tambah dalam kehidupan di bumi ini. Apa yang dimaksud dengan nilai tambah [added value]? Bertambahnya kegunaan atas sesuatu! Bila semula besi hanya digunakan sebagai alat semacam pisau, linggis, dan cangkul, maka nilainya akan bertambah bila besi itu dijadikan seterika listrik, kerangka mobil dan sejenisnya. Nah, sebenarnya mereka yang menemukan mesin, motor, mobil, pesawat udara, komputer adalah orang-orang yang bersyukur. Dan penemuan itu terjadi berkat kesabaran mereka. Maka, marilah kita ingat QS 14:7, “La-in syakartum la-azidan nakum, wa la-in kafartum inna ‘adzabi lasyadid”, jika kamu bersyukur pasti Kami tambah kamu tetapi bila kamu kufur [menutupi kebenaran] maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih. Dengan membuat kipas-angin kita merasakan kenyamanannya, dan bila kita membuat AC maka lebih nyaman lagi. Tetapi bila kita tidak kreatif, tidak mau menciptakan kipas-angin atau AC, maka sungguh gerah rasanya. Menciptakan AC hanyalah salah satu bentuk syukur.

Bersabar = patuh kepada Allah dan Rasul + tidak bertikai

Pada Surat Al Anfal/8:46 ditegaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang patuh kepada Allah dan Rasul, dan tidak bertikai dengan teman seiring. Patuh kepada Allah dan rasul hendaknya tidak diturunkan ‘grade’-nya menjadi mematuhi Al Quran dan Hadis. Ingat Allah bukanlah Al Quran, begitu pula sebaliknya. Allah adalah Tuhan pencipta alam semesta. Sedangkan Al Quran adalah salah satu Kitab Suci-Nya. Patuh kepada Allah adalah mematuhi Al Haqq, Kebenaran. Kebenaran yang bisa kita saksikan di ufuk langit, di bumi, di kitab suci, dan pada diri kita sendiri.

Kebenaran di ufuk langit atau di angkasa adalah kejadian awan, angin, hujan, kilat, petir, cahaya, dan purnama. Kita patuhi hukum-hukum-Nya sehingga kita selalu dalam lindungan-Nya. Begitu pula hukum-hukum yang ada di bumi dan diri kita. Segala hukum adalah kepunyaan-Nya. Karena itu mematuhi-Nya berarti mengikuti hukum-hukum-Nya [His Law] yang ditetapkan di alam raya ini. Allah jangan dijadikan sesembahan yang abstrak. Kalau Allah kita abstrakkan maka itu Allah produk pikiran kita sendiri. Allah Maha Halus [wa huwa lathif], maka kita dekati dengan kelembutan, yaitu perilaku yang lembut, penuh kasih. Dan kita latih batin kita dengan zikir kepada-Nya. Sekarang ini sebagian besar orang-orang Islam mematuhi Allah hanya dengan sekadar mematuhi teks halal dan haram, dan itu yang didiskripsikan 1000 tahun yang lalu. Sehingga ‘narkoba’ yang sebenarnya lebih haram dari sekadar kecampuran daging babi atau minuman beralkohol, tumbuh merajalela di banyak negeri yang penduduknya mayoritas Islam. Hal ini terjadi karena mematuhi Tuhan hanya diwujudkan dengan ibadah mahdhah [ritual] dan mengikuti teks-teks halal haram.

Dalam mematuhi Rasul pun menjadi abstrak. Secara fisikal Rasul sudah tidak hadir di tengah-tengah umat manusia sekarang ini [tentu saja semenjak th 632 M]. Mematuhi Rasul tidak berarti mematuhi Hadis. Kalau mematuhi beliau berarti mematuhi Hadis, lha bagaimana dengan generasi sebelum Hadis ditulis! Bukhari saja baru dilahirkan pada 196 H, artinya dia baru hadir di bumi ini setelah 186 tahun [seratus delapan puluh enam tahun] sepeninggal Rasul Saw. Lalu buat apa Hadis? Tentu saja digunakan sebagai alat atau referensi untuk memahami Al Quran.

Lalu bagaimana caranya mematuhi Rasul itu? Ingat, mematuhi tidak sama dengan ‘meniru’. Mematuhi beliau tidak sama dengan meniru bentuk lahiriah beliau, seperti anak-anak meniru perilaku orang dewasa. Peniruan demikian adalah peniruan kuantitatif yaitu berapa banyak bentuk lahiriah yang kita tiru. Jika demikian, rendah betul kualitas umat. Perilaku anak kecil dan orang dewasa tidak ada bedanya, asal sudah bersorban, bergamis, berjanggut, rambut dibiarkan sampai bahu, makan selalu bersama-sama dalam satu tampah dan hanya pakai jari [bagaimana kalau makan bubur ya?] dan lain sebagainya. Mematuhi atau mengikuti Rasul adalah meneladani beliau. Kita teladani, bagaimana beliau bisa bersabar menghadapi tekanan lawan, bagaimana beliau mampu menegakkan keadilan, bagaimana cara beliau memecahkan suatu persoalan, bagaimana beliau bersifat lembut tapi tegas, bagaimana beliau bisa ramah tapi tak dilecehkan, bagaimana beliau menegakkan hukum dan lain-lain. Bagaimana bisa meneladani beliau? Tentu saja dengan pendidikan yang baik, dengan meningkatkan kecerdasan [IQ, EQ dan SQ], dan dengan pematangan diri.

Dalam subtopik ini dinyatakan bahwa sabar merupakan gabungan kepatuhan kepada Allah dan Rasul, dan tidak bertikai. Tidak bertikai, tidak berebut kewenangan, tidak berebut kekuasaan, tidak mau menang-menangan adalah cara untuk membangun kesabaran. Pernyataan patuh kepada Allah dan Rasul belum cukup, bila kita masih bertikai. Pertikaian akan memporak-porandakan keutuhan kita. Akhirnya kita menjadi gentar dalam menghadapi tekanan hidup, dan lemah posisi kita. Di bawah ini saya kutipkan sebuah ayat QS 8:46. Ayat ini ada di dalam Surat Al Anfal, surat yang membahas rampasan perang. Sebagian ayat diturunkan setelah perang Badar, dan yang lain setelah perang Uhud [terjadi 1 tahun kemudian dari perang Badar].
8:46 Wa athi-‘u l-laha wa rasulahu wa la tanaza-‘u fatafsyalu wa tadz-haba rihukum washbiru inna l-laha ma-‘a sh-shabirin.
Dan, patuhilah Allah dan Rasul-Nya dan jangan berselisih [bertikai] agar kamu tidak lemah dan hilang kekuatanmu. Bersabarlah! Sesungguhnya Tuhan menyertai orang-orang yang sabar.
Di dalam Al Quran perintah bersabar itu selalu didahului dengan kalimat berita atau perintah. Dengan demikian kita bisa memahami apa yang dimaksud dengan sabar. Misalnya, pada QS 3:146 pernyataan sabar didahului kalimat berita ‘mereka tak gentar, tak lemah semangat, tak berbudi rendah. Sedangkan pada ayat barusan, pernyataan sabar didahului kalimat perintah ‘taat kepada Allah dan Rasul, dan larangan berselisih’. Jelas, bahwa sabar adalah aksi, bersifat aktif. Sabar bukan pasifis atau bersifat pasif. Sabar adalah usaha, ada pengerahan tenaga. Sabar bukan diam, membiarkan sesuatu menimpa pada dirinya. Sabar bukan kalah, tetapi menang!

Allah itu Maha Sabar!

Sebagai penutup bahasan ‘sabar’ [yang akan datang tentang zuhud], saya ambilkan asma-ul husna yang ke-99, yaitu “ash-shabur”. Ya, Allah itu Maha Sabar! Meskipun Dia itu Maha Kuasa, tetapi untuk menciptakan bumi yang bisa kita tempati ini perlu waktu 4,5 milyar tahun. Ternyata penciptaan itu bukan bersifat “sim-salabim”. Tuhan sabar dalam menciptakan. Tuhan penuhi hukum-hukum ciptaan. Tuhan menciptakan semua ini berlandaskan 5 prinsip [yang Dia tetapkan], yaitu matematika, fisika, kimia, biologi, dan evolusi.

Dalam bahasa Al Quran dinyatakan “al-ladzi khalaqa fasawwa wa l-ladzi qaddara fahada wa l-ladzi akhraja l-mar’a faja-‘alahu ghutsa-an ahwa.” Dia yang menciptakan dan menyempurnakan [lahir sebagai orok dan tumbuh dan berkembang hingga dewasa], Dia menetapkan kadar [potensi, ukuran, dan hukum-hukum fisika dan kimia] pada ciptaan-Nya. Dia memberi petunjuk kepada ciptaan-Nya yang biologis [sehingga makhluk biologis bisa mempertahankan kehidupannya]. Lalu, Dia putuskan ikatan-ikatan kimia yang ada sehingga makhluk hidup menjadi layu [tua renta] dan akhirnya punah [ghutsa-an ahwa]. Dan dalam proses penciptaan di Surat ke-87, yaitu ayat 2 ?5 itu, tumbuhlah dari masyarakat primitif menuju masyarakat madani. Berlaku hukum evolusi di situ. Dari manusia yang politeis menjadi manusia yang monoteis. Demikianlah hukum evolusi bekerja. Pada akhirnya, orang yang sabar adalah orang yang bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan Tuhan.
 
 
*Sumber: http://rt013rw035.blogspot.com/2013/01/Pemahaman-Sufisme-Tasawuf-11.html

Monday, 3 June 2013

Kisah Teladan Rasulullah SAW.

Kalau ada pakaian yang koyak,
Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.

Beliau juga memerah susu kambing
untuk keperluan  keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah,
bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,
sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya
untuk membantu isterinya di dapur.

Sayidatina 'Aisyah menceritakan:
”Kalau Nabi berada di rumah,
beliau selalu membantu urusan rumahtangga.

Jika mendengar azan,
beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,
dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang."

Pernah baginda pulang pada waktu pagi.
Tentulah baginda amat lapar waktu itu.
 Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan.
Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
 "Belum ada sarapan ya Khumaira?"
(Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan')

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,
"Belum ada apa-apa wahai Rasulullah." 
Rasulullah lantas berkata,
”Kalau begitu aku puasa saja hari ini."
tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah baginda bersabda,
"sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya." 

Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.
Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu
langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :


"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?"
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar"
"Ya Rasulullah... mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit..."
desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.

"Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?" 

Lalu baginda menjawab dengan lembut,
”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?" "Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat
yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka,
seluas-luasnya untuk baginda,
baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,
 terus-menerus beribadah,
hingga pernah baginda terjatuh,
lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.
Fisiknya sudah tidak mampu menanggung
kemahuan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah,
"Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"

Jawab baginda dengan lunak,
"Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

*Sumber: http://www.meriwardanaku.com/2010/05/kisah-tauladan-kita-rasulullah-muhammad.html

Friday, 31 May 2013

Perhiasan Termahal

Entah apa jadinya kalau kita hidup tanpa adanya perhiasan yang melekat pada diri kita. Mungkin orang akan menganggap kita gombal, kumuh, atau kotor. Baju yang bagus, rapi, bersih serta yang bervariasi termasuk dalam perhiasan kita sehari-hari. Kalung, cincin, giwang, serta gelang yang acap kali dikenakan kaum hawa juga termasuk perhiasan untuk keindahan seorang wanita. Namun ada perhiasan yang tidak semua orang memilikinya. Dia tidak dijual di pertokoan, mal-mal, pasar, dan supermarket. Bahkan dia tidak mempunyai pabrik khusus untuk memproduksinya.
Karena keberadaannya yang sangat langka, maka tidak heran kalau orang yang dapat membelinya adalah orang-orang khusus. Untuk mendapatkannya harus memenuhi beberapa persyaratan, melewati beberapa tantangan, dan menaklukkan beberapa rintangan. Nilai mahalnya perhiasan ini terletak pada kelangkaannya di tengah hiruk-pikuk manusia. Dia tidak terlalu berambisi untuk dikenal manusia atau bahkan dipuji karena keindahannya. Sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkannya sekalipun tantangan dan rintangan menghadang. Hidup akan lebih bermakna kalau hiasan ini berada di rumah tangga. Seisi rumah akan terdidik dan terarah bila perhiasan ini berada disana.
Dia akan menjadi penyejuk tatkala pemiliknya gundah. Dia akan menjadi ladang solusi tatkala pemiliknya diterpa masalah. Dia akan selalu setia menemani sang pemilik dimanapun dia berada dan kemanapun ia melangkah. Mungkin kita sekarang hanya bisa berharap untuk mendapatkan perhiasan ini dengan terus mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya. Bukan materi yang kita kumpulkan, karena dia tidak bisa dibeli dengan lembaran dollar bahkan euro sekalipun. Sebab dia hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang pandai menjaga amanah. Dia hanya diperoleh oleh orang-orang yang bersikap tawaduk dan jujur baik pada diri sendiri maupun orang lain.
Masihkah ada perhiasan seperti Khadijah yang rela mengorbankan harta bendanya untuk perjuangan Rasulullah saw. Menghibur beliau ketika dilanda rasa takut saat mendapatkan wahyu yang pertama.  Dia berani mengorbankan apa saja yang dimiliki demi mendukung dakwah yang diemban oleh sang suami. Maka tidak berlebihan kalau Rasulullah saw. selalu memujinya di depan istri-istri beliau yang lain. Dialah yang beriman tatkala semua orang mengingkari risalahnya. Semoga di zaman yang semakin hari semakin berat cobaan yang kita hadapi ini akan bermunculan khadijah-khadijah abad 20. Akhirnya al fakir tutup dengan hadist Nabi “ ad-dunya mata’un wa khoiru mata’iha al-mar’atus shalihah”. Wallahu a’lam [Ahmad Sufi]

*Sumber: http://www.mosleminfo.com/hikmah/perhiasan-termahal/

Sunday, 7 April 2013

Etika Pergaulan dalam Islam


“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat: 13).
 
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa selain mengemban misi ibadah (QS Adz-Dzariyat: 56) dan misi memakmurkan bumi (isti’marul ardh, QS Hud: 61), tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengemban misi sosial (lita’aarafu bainal insaan). Sengaja Allah Swt. menciptakan manusia dalam ragam suku dan bangsa, agar satu sama lain melakukan interaksi sosial, membangun silaturahim (persahabatan dan persaudaraan), dan melakukan kerjasama antarsuku dan atau antarbangsa. Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia tak ada dapat hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya.
 
Menurut Kimball Young dan Raymond (1959), interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interkasi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama (Gillin dan Gillin, Cultural Sociology, 1954).
 
Di dalam Al-Qur`an al-Karim, Allah Swt. bahkan mengintegrasikan misi sosial ke dalam misi ibadah. Interaksi sosial, dalam arti dakwah (tadzkirah), menjadi prasyarat dan penyempurna bagi pelaksanaan misi ibadah. Simaklah firman Allah Swt.
 
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS Adz-Dzariyat: 55-56).
 
Ayat ini menegaskan bahwa misi ibadah akan sulit dilaksanakan tanpa adanya aktivitas dakwah, yaitu tadzkirah (saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan) di antara sesama manusia. Banyak aktifitas ibadah yang tidak bisa atau kurang sempurna bila dilakukan tanpa melibatkan orang lain. Misalkan shalat Jum’at dan shalat berjamaah. Begitu pula dengan pelaksanaan shaum (puasa) di bulan Ramadhan akan terasa berat bila tidak dilakukan secara serempak (berjamaah). Belum lagi pelaksanaan hudud dan jinayah (hukum pidana) tak bisa dilakukan tanpa adanya kesepakatan di antara umat Islam untuk melaksanakan hukum tersebut.
 
Oleh karena itu, Allah Swt. menegaskan bahwa sebelum melaksanakan misi ibadah dalam arti luas, kita diperintahkan untuk melakukan misi sosial (interaksi sosial) dalam bentuk dakwah. Dalam terminologi Islam, interaksi sosial pada hakikatnya adalah dakwah itu sendiri.
 
Setiap interaksi sosial selalu menimbulkan dampak baik atau buruk, suka atau tidak suka, diterima (accepted) atau ditolak (rejected). Karena pada hakikatnya interaksi sosial adalah proses saling mempengaruhi di antara manusia. Seperti dikatakan Bonner dalam bukunya Social Psychology (1953), interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau sebaliknya.
 
Bagi seorang Muslim, interaksi sosial kurang bermakna bila tidak menghasilkan interaksi dakwah. Oleh karena itu, Islam mengatur tentang hubungan antara orangtua dengan anak, suami dengan istri, yang lebih tua dengan yang lebih muda, hubungan bertetangga, hubungan kekerabatan, hubungan sesama Muslim, hubungan Muslim dengan non-Muslim, ulama dengan ‘umara (pemerintah), pemerintah dengan rakyat, dan sebagainya. Semua itu diatur agar tercapai sebuah keharmonisan hidup. Sehingga kehidupan yang penuh ujian dan fitnah bila diatur oleh nilai-nilai Islam, maka akan menghasilkan kehidupan yang lebih bermakna.
 
Setiap orang yang melakukan interaksi sosial, terikat dengan etika pergaulan sesuai dengan kadar dan ikatan pergaulan tersebut. Ikatan itu bisa berupa kekeluargaan, kekerabatan, persahabatan, pertemanan, kolega, atau sahabat pena.
 
Setiap orang tentu memiliki kekerabatan yang bertingkat-tingkat. Kekerabatan memiliki hak, akan tetapi hak kerabat mahram (orang yang haram dinikahi sebagaimana tercantum dalam QS An-Nisa`: 23) lebih kuat. Mahram punya hak, akan tetapi hak kedua orangtua lebih kuat. Demikian pula hak tetangga, berbeda-beda sesuai dengan jauh dan dekatnya rumah. Begitu pula dengan kenalan atau pertemanan. Hak orang yang dikenal dengan cara bertemu langsung tidak sama dengan teman yang dikenal lewat telepon, surat, atau chating.
 
Secara garis besar, Dr. Said bin Muhammad Daib Hawwa yang lebih dikenal dengan Syeikh Said Hawwa dalam kitab Al-Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus memaparkan tentang etika interaksi sosial atau etika pergaulan. Beliau mengatakan, “Bila anda menginginkan interaksi sosial yang baik, maka hadapilah teman dan orang-orang yang membenci anda dengan wajah ridha tanpa menghinakan diri dan takut kepada mereka, menghormati tanpa sombong, dan tawadhu tanpa kehinaan.”
 
Beliau menambahkan, bila anda berada di hadapan orang, janganlah menarik-narik jenggot, jangan memasukkan jari ke lubang hidung, dan jangan banyak menguap. Duduklah dengan tenang, berbicaralah dengan teratur dan dengarlah pembicaraan orang lain dengan baik tanpa menampakkan kekaguman yang berlebihan. Diamlah terhadap hal-hal yang mengundang tawa. Janganlah anda berbicara tentang kekaguman anda kepada anak anda, pembantu anda, tulisan anda, dan semua urusan pribadi anda.
 
Buatlah mereka segan tanpa kekerasan. Bersikaplah lemah-lembut tanpa rasa lemah. Janganlah anda terlalu banyak bercanda dengan bawahan dan pembantu anda. Jika marah, hendaklah anda tetap menghargai dan menjaga diri dari berbuat kebodohan dan menjauhi ketergesaan. Berbicaralah jika kemarahan anda telah reda.
 
Bila memasuki sebuah majelis, berilah salam terlebih dahulu, tidak melangkahi orang yang telah duduk terlebih dahulu. Duduklah di tempat yang kosong, bersikap tawadhu, dan mengucapkan salam kepada orang yang paling dekat duduknya dengan anda
 
Janganlah anda duduk-duduk di pinggir jalan. Jika anda duduk di pinggir jalan, maka adabnya adalah menundukkan pandangan, membela orang yang teraniaya, menolong orang yang memerlukan pertolongan, membantu orang yang lemah, membimbing orang yang tersesat, menjawab salam, memberi orang yang meminta, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, tidak meludah ke arah kiblat atau ke sebelah kanan anda.
 
Jika anda  bergaul dengan para penguasa atau pejabat, janganlah menggunjing, jangan berdusta, dapat menjaga rahasia, mempersedikit keperluan, menghaluskan bahasa dan ungkapan, mengkaji akhlak para raja, tidak berambisi atau menjilat di hadapan mereka, dan tidak bertusuk gigi setelah makan di sisi mereka.
 
Bila anda bergaul dengan orang awam, hendaknya tidak melibatkan diri terlalu jauh dengan pembicaraan mereka, melupakan ungkapan-ungkapan buruk mereka. Janganlah anda mencandai orang pintar atau orang bodoh. Karena orang pintar akan mendengki dan merendahkanmu, sedangkan orang bodoh akan berani kepadamu. Senda gurau yang berlebihan akan mengurangi wibawa, menjatuhkan air muka, menimbulkan kedengkian, menghilangkan kasih sayang, menjatuhkan kedudukan di hadapan orang bijak, dan tidak disukai orang-orang bertaqwa. Senda gurau yang melampaui batas etika Islam juga bisa mematikan hati, menjauhkan diri dari Allah, menyebabkan kelalaian, mengakibatkan kehinaan, mematikan imajinasi, memperbanyak aib dan dosa. Demikian, nasehat Said Hawwa.
 
Setiap Muslim, apalagi juru dakwah, dituntut untuk bijak dalam menata pergaulannya. Di satu sisi, dalam mengemban misi dakwahnya, ia harus membuka kontak sosial seluas-luasnya dan bergaul dengan seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi di sisi lain, ia harus tetap menjaga kelebihan dan keistimewaan dirinya sebagai seorang Muslim. Untuk melakonkan peran demikian, para ulama dakwah membuat prinsip, "nakhtalithuun walaakin natamayyazuun" (berbaur tetapi tidak melebur). Mewarnai, tetapi tidak diwarnai. Mempengaruhi, tetapi tidak dipengaruhi.
 
Perinsip ini diajarkan oleh Rasulullah Saw. Aisyah ra. menceritakan, seorang lelaki meminta izin bertemu Rasulullah Saw. Beliau mengizinkannya sambil berkata, "Seburuk-buruk teman adalah dia". Akan tetapi, setelah orang itu masuk, Rasulullah Saw. memperlakukannya dengan sopan dan lemah lembut, bahkan menghormatinya. Setelah lelaki tersebut keluar, Aisyah ra. berkata, "Ketika orang itu akan masuk engkau memburukkannya. Tetapi engkau menerimanya dengan penuh penghormatan." Nabi Saw. lalu bersabda, "Wahai Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan manusia lantaran menghindari keburukannya" (HR Bukhari dan Muslim).
 
Akan tetapi Umar ra. mengingatkan kita agar tidak terlalu longgar dalam pergaulan untuk menghindari terjadinya fitnah atau su`uzhzhan (prasangka buruk) dari orang lain. Beliau berkata, "Siapa yang menempatkan dirinya pada posisi yang mengundang tuduhan, janganlah mencela orang yang berprasangka buruk kepadanya." Sebuah atsar (perkataan shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama salaf) menyebutkan, "Akrabilah manusia dengan amal perbuatan kalian, dan jauhilah mereka dengan hatimu." Wallahu a'lam bishshawab.
 



Tuesday, 2 April 2013

Tips dan Trik Mengobati Hati Yang Sakit

1. Segera bertaubat dan banyak beristighfar.

Sesungguhnya dosa sangat mempengaruhi hati seseorang, setiap berbuat dosa akan tetancap bintik hitam pada hati seseorang tersebut. Ibarat besi yang semakin hari dililit karat, bila sudah terlalu tebal maka untuk menghilangkannya akan sangat sulit dan butuh pada waktu yang cukup lama. Diterjen yang paling manjur untuk membersihhkan karat hati adalah taubat dan istighfar.

Amat banyak sekali ayat-ayat maupun hadits-hadits yang memerintahkan agar kita senantiasa bertobat dan memohon ampunnan dari Allah.


Seperti perintah nabi Huud ‘alaihis salam  kepada kaumnya yang terdapat dalam fiman Allah:


وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ [هود/52]


“Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”


Demikian pula perintah nabi Syu’aib ‘alaihis salam kepada kaumnya dalam firman Allah:


وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ [هود/90]


“Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.”


2. Banyak bertawakal.

Agar hati kita tenang ketika berihtiar dan berusaha, hendaklah kita bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.


Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا [الطلاق/3]



“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”


3. Biasakan bersikap sabar.

Dalam menjalani hidup sehari-hari pasti kita akan mengalami kondisi yang saling berbeda. Tidak ada seorangpun yang tidak mengalami cobaan dan ujian. Karena Allah telah menjadikan kehidupan ini untuk melihat siapa yang lulus dari ujian.


Sebagaimana Allah berfirman:


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت/2، 3]


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”


Dan firman Allah:


وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [البقرة/155]


“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”


4. Sering membaca dan mendengarkan Al Qur’an.

Al Qur’an adalah kitab suci yang oenuh berkah disamping sebagai petunjuk, rahmat dan pelajaran. Ia juga sebagai obat dan penawar bagi berbagai penyakit hati, sebagaimana Allah sebutkan dalam firmannya:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ [يونس/57]


“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”


Dan firman Allah:


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا [الإسراء/82]


“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”


5. Mempelajari ilmu agama terutama ilmu Akidah.

Mempelajari ilmu akidah berdasarkan dalil-dalil syar’i akan menyembuhkan hati kita dari berbagai bentuk penyakit syubuhat (Kesesatan) dalam hati. Seperti penyakit ragu, nifaq, syirik, bid’ah dan lain-lain.

Oleh sebab itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga belas tahun di Makkah menyeru kepada tauhid dan memperbaiki aqidah orang kafir Quraisy. Demikian pula ayat-ayat yang turun di Makkah jika kita perhatikan hanya berbicara tentang tauhid dan Aqidah. Demikian tugas seluruh para rasul dan nabi mengajak manusia untuk mengetahui tentang pentingnya tauhid dan betapa berbahayanya syirik. Jika kiata membaca surat yang pertama turun adalah perintah untuk membaca dan menulis karena keduanya adalah sarana untuk mendapat ilmu.


Sebagaiman terdapat dalam firman Allah:


اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ [العلق/1-5]


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”


6. Membiasakan berinfak

Membiasakan berinfak adalah cara membersihkan hati dari penyakit kikir dan tamak. Oleh sebab itu, banyak sekali ayat dan hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk selalu berinfak.


Sebagaimana Allah berfirman:


إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23) وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ [المعارج/19-25]


“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa.”


7. Berteman dengan orang-orang yang sholeh dan taat beribadah serta berakhlak mulia.

Berteman denga orang yang sholeh akan banyak memberikan terapi bagi kita. Karena ia akan mengingatkan jika kita lupa dan akan menasehati jika kita tersalah.


Sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:


«مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَىْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيحِهِ وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ .” رواه أبو داود


“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)